ISHG Mencatatkan Rekor Tertinggi di 6.385

ISHG Mencatatkan Rekor Tertinggi di 6.385

ISHG Mencatatkan Rekor Tertinggi di 6.385

Indeks Harga Saham Gabungan pada perdagangan pada hari ini (8/1) kembali mencatat rekor tertinggi sepanjang masa. Indeks ditutup menguat 0,50% atau setara 31,66 poin ke level 6.385,40. Pemodal asing membukukan net buy sebesar Rp 331,89 miliar.

 

Analis Reliance Sekuritas Lanjar Nafi mencatat, sektor pertambangan serta properti dan konstruksi memimpin penguatan. Ia menilai harga minyak yang terlihat kuat di atas US$ 61 per barel menjadi trigger harga tambang dan energi lainnya.

Menurut Lanjar penekan indeks datang dari sektor industri dasar. Penurunan terjadi di sektor ini setelah wacana pemerintah mengenai harga patokan ayam dan telur. Wacana ini menggiring saham CPIN turun 8,61% dan JPFA melemah 3,96%.

Analis Paramitra Alfa Sekuritas William Siregar menilai, penguatan IHSG pada hari ini juga tak lepas dari data cadangan devisa Desember 2017 yang diumumkan Bank Indoneisa. Sebagai informasi, BI merilis posisi cadangan devisa Indonesia akhir Desember 2017 sebesar $ 130,2 miliar, lebih tinggi dibandingkan posisi akhir November 2017 sebesar $ 125,97 miliar.

Selain itu, menurut William, data indeks kepercayaan konsumen yang berada di level tertinggi pada Desember 2017, mengindikasikan adanya perbaikan daya beli. Adapun efek dari dua sentimen ini menurut William masih akan berlanjut pada perdagangan saham Selasa (9/1). “Masih ada potensi melanjutkan penguatan walaupun tipis,” ujar William.

Dengan demikian, William memperkirakan indeks pada perdagangan Selasa (9/1) akan bergerak di level 6.415-6.355.

Menurutnya, aaham-saham sektor pertambangan bisa dilirik. Sebagaimana diketahui, beberapa waktu lalu, pemerintah mewajibkan neberapa emiten lokal untuk memasok batubara demi pasokan listrik nasional. Adapun saham yang terimbas adalah ADRO dan INDY melalui Kideco.

“Suku bunga kita sudah mulai rendah, indeks kepercayaan konsumen juga berada di level tertinggi. Ada sinyal masyarakat masuk ke sektor properti. Ini juga bisa diperhatikan,” imbuh William.

Sementara itu, secara teknikal, Lanjar melihat IHSG break out target penguatan fibonacci 38,2% di level 6.375. Selanjutnya menguji upper bollinger bands hingga di kisaran 6.440. Indikator Stochastic bergerak terkonsolidasi positif dengan momentum RSI yang tertahan pada zona overbought. Sehingga memberikan indikasi penguatan yang tertahan pada perdagangan selanjutnya pada rentang pergerakan 6.324-6.415.

Saham-saham yang masih dapat diperhatikan diantaranya AKRA, BBNI, LPKR, ERAA, ADHI.