Analisis Teknikal Saham

Analisis Teknikal Saham adalah salah satu cara untuk menganalisis pergerakan harga menggunakan chart. Dari chart, Anda akan dapat mengetahui bagaimana trend harga sekarang, sedang naik, turun atau datar. Dari sini kita akan mengetahui kapan waktu yang tepat untuk membeli atau menjual. Trader saham, emas, forex disarankan menguasai Analisis Teknikal.

Pada prinsipnya analisis teknikal merupakan metode analisis instrumen investasi yang menggunakan data-data historis mengenai perubahan harga saham maupun instrumen lainnya, volume dan beberapa indikator pasar yang lain untuk melahirkan rekomendasi keputusan investasi. Analisis ini bisa diterapkan pada bursa saham, pasar valuta asing, bursa komoditas atau pasar apapun yang pergerakan harga dagangannya dipegaruhi oleh permintaan dan penawaran.

 

lima langkah sederhana berikut untuk melakukan analisa teknikal dengan baik:

1. Buka chart dan kenali trend yang tengah berlangsung

Langkah pertama yang harus Anda lakukan tentu saja adalah membuka chart, kemudian lihat trend yang sedang berlangsung. Anda bisa memilih, trend yang mana yang ingin Anda ikuti dan manfaatkan. Kenalilah trend yang sedang berlangsung, mulai dari trend jangka panjang, baru kemudian mundur ke trend jangka menengah atau jangka pendek.

Meskipun Anda boleh memilih trend mana yang akan Anda manfaatkan, disarankan untuk mencari trend jangka panjang (major trend) dan mengikutinya. Ingat, “the trend is your friend”.

Jika Anda telah mengenali trend-nya, maka strategi yang terbaik bagi Anda adalah mengambil posisi (transaksi) yang searah dengan trend yang sedang berlangsung. Jika trend saat itu adalah naik (uptrend), maka sebaiknya Anda mencari peluang “buy”. Sebaliknya, jika trend-nya adalah turun (downtrend), maka carilah peluang “sell”.

2. Tentukan support dan resistance

Setelah Anda bisa mengenali trend yang sedang berlangsung, langkah selanjutnya adalah menentukan di mana level support dan resistance. Anda bisa mencari peluang “buy” di area support atau “sell” di area resistance. Tentu saja Anda tak boleh melupakan langkah pertama di atas, yaitu mengambil posisi yang searah dengan trend.

Dengan kata lain, jika Anda melihat trend saat itu adalah uptrend, maka carilah posisi “buy” di area support, demikian sebaliknya.

Level-level support dan resistance juga bisa Anda manfaatkan sebagai “peringatan” jika ternyata harga tidak bergerak seperti yang Anda harapkan. Jika misalnya support tembus padahal Anda sebelumnya sudah membuka posisi “buy”, maka tembusnya support tersebut seharusnya menjadi peringatan untuk melakukan cut-loss.

3. Manfaatkan Moving Average

Anda juga bisa memanfaatkan indikator moving average (MA) untuk mengenali trend yang berlangsung. Jika sulit untuk menggambar trendline, Anda bisa melihat pergerakan MA untuk membantu Anda mengidentifikasi trend. Sederhananya, jika Anda melihat MA bergerak turun dan harga bergerak di bawah MA, maka trend saat itu adalah downtrend. Sebaliknya, jika Anda melihat MA bergerak naik dan harga bergerak di atas MA, maka trend saat itu adalah uptrend.

Selain itu, MA juga bisa berfungsi sebagai support dan resistance. Jika MA berada di atas pergerakan harga, ia berfungsi sebagai resistance. Jika MA berada di bawah pergerakan harga, fungsinya adalah sebagai support.

4. Filter dengan indikator osilator

Indikator osilator bisa memberikan gambaran apakah pasar sedang berada dalam keadaan jenuh beli (overbought) atau jenuh jual (oversold). Kondisi overbought artinya adalah keadaan ketika harga dianggap sudah cukup tinggi pada saat itu. Kondisi ini seringkali diikuti oleh penurunan harga. Sebaliknya, kondisi oversold berarti harga dianggap sudah cukup rendah pada saat itu, dan seringkali diikuti oleh naiknya harga.

Ketika indikator osilator sudah memperlihatkan indikasi overbought, maka yang perlu Anda lakukan adalah menunggu konfirmasi sinyal sell. Sebaliknya, jika osilator memperlihatkan indikasi oversold, tunggulah konfirmasi sinyal buy.

Namun perlu Anda catat bahwa tidak selalu kondisi overbought atau oversold diikuti oleh pembalikan arah pergerakan harga. Ada kalanya indikator terus berada di area overbought atau oversold untuk beberapa waktu namun harga terus bergerak melanjutkan arah sebelumnya. Untuk menyiasatinya, Anda harus menyesuaikan sinyal yang diberikan oleh indikator dengan trend yang sedang berlangsung. Dalam kondisi uptrend, carilah hanya sinyal buy saja, sebaliknya dalam kondisi downtrend carilah hanya sinyal sell saja. Cara ini relatif lebih aman.

Indikator yang bisa Anda gunakan di antaranya adalah stochastic dan CCI. Oh ya, ada hal penting yang perlu Anda ingat: JANGAN TERLALU BANYAK MENGGUNAKAN INDIKATOR, sebab justru “kelatahan” itulah yang membuat analisa teknikal menjadi rumit. Gunakanlah satu atau dua indikator teknikal saja, maksimal tiga. Di blog ini, sudah ada artikel yang membahas teknik analisa sederhana dengan hanya menggunakan trendline, stochastic dan CCI. Silakan Anda baca di sini.

5. Tentukan stop loss dan target profit

Langkah terakhir, tentukanlah level stop loss dan target profit dari transaksi yang Anda lakukan. Dalam menentukan stop loss dan target profit, Anda tidak boleh lupa pada aturan risk-reward-ratio, di mana stop loss (resiko kerugian) tidak boleh lebih besar daripada target profit. Ini aturan yang tak boleh dilanggar.

Anda pun harus menentukan seberapa besar volume transaksi yang Anda lakukan. Sesuaikan dengan trading plan Anda, sehingga seandainya Anda mengalami kerugian maka resiko yang Anda terima tidak melebihi toleransi resiko Anda. Lebih lengkap mengenai hal ini, silakan baca mengenai manajemen modal di halaman edukasi kami.

Baca Juga :